SEKILAS INFO
  • Selamat Datang Di Website  MAN 3 Bone
  • PPDB segera dibuka! Persiapkan berkasnya yaa!
  • Tetap Jaga Kesehatan! Terapkan 4 M (Memakai Masker, Mencuci Tangan dengan Sabun, Menjaga Jarak, dan Membaca Doa)
29
Jul 2020

Covid-19 nama yang sudah tak asing lagi di telinga kita saat ini. Dari anak TK sampai yang sesepuh sibuk membicarakan tentang virus yang katanya mematikan ini. Virus ini bukan hanya menjadi wabah bagi tubuh tapi ia menjelma menjadi wabah menyerang cara berpikir manusia lainnya. Virus ini bukan hanya melumpuhkan ala-alat vital dalam tubuh tapi telah melumpuhkan perekonomian bangsa-bangsa, hingga beberapa negara mengalami kesulitan ekonomi yang luar biasa. Baik negara maju dan kaya apalagi negara yang perekonomiannya belum stabil.

Dibalik pendemic ini ada beberapa kegiatan yang berbeda dari puluhan hingga ratusan tahun yang lalu. Tak memilih siapa dia tak memilih bagaimana bentuk aktivitasnya. Sekolah-sekolahpun harus menutup akses pembelajaran dari kelas. Semua ini dilakukan agar penyebaran virus ini segera berakhir sehingga kita bisa kembali hidup normal seperti dulu kala.

Di awal era pandemic ini tak kurang peserta didik bahkan bisa jadi sebagian guru merasa senang dengan adanya edaran dari pemerintah untuk menghentikan proses belajar mengajar di kelas dan dialihkan ke pembelajaran jarak jauk atau biasa kita kenal dengan PJJ. Mereka beranggapan bahwa belajar dari rumah menyenangkan karena bisa melakukan berbagai macam aktivitas secara bersamaan. Bisa ngemil sambil belajar, berbaring sambil belajar, atau bisa membantu orang tua sambil belajar. Bahkan banyak siswa yang mengambil kesempatan sambil bermain game. Semua terasa menyenangkan kapan lagi bisa seperti ini. Mungkin seperti itu pikir Sebagian besar peserta didik kita. Berbeda dengan pendidik. Mereka sebagian beranggapan bahwa PJJ ini merupakan kesempatan untuk berkumpul bersama keluarga. Banyak yang beranggapan punya waktu luang untuk bisa tetap melakukan aktivitas lain. Seperti itulah gambaran ketika pertama kali melakukan proses PJJ.

Lambat laun semua yang awalnya menyenangkan akhirnya menjadi membosankan. Karena memang sudah melekat dalam diri manusia tidak bisa bertahan dalam satu fase. Akan ada titik puncak kejenuhan dari dalam diri. Mereka sudah mulai tidak menikmati lagi PJJ ini dengan berbagai alasan yang sering kita dengar. Mulai dari jaringan yang kurang bagus hingga harus merogoh kantong untuk membeli kuota agar proses PJJ tetap berajalan. Banyak pendidik yang mengeluh dengan meningkatkan pengeluaran sejak diberlakukannya PJJ ini. Tantangan yang lain adalah keaktivan peserta didik tentu berbeda dengan kelas regular itu sendiri. Hingga kejenuhanpun mulai menghantui. Di lain sisi peserta didik sudah mulai jenuh dengan berbagai tumpukan tugas yang diberikan setiap harinya. Mereka harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk bisa menyelesaikan tugas-tugas itu.

Beberapa siswa yang diberikan angket mengatakan bahwa proses pembelajaran dari rumah penuh dengan suka duka. Ada juga yang mengatakan bahwa proses pembelajaran dari rumah penuh dengan  tantangan. Hal ini disebabkan oleh kesadaran diri oleh siswa untuk belajar mandiri.

Rindu yang membuncah, itulah kata yang tepat untuk mewakili perasaan siswa saat ini. Kerinduan akan masa-masa di sekolah. Bertemu dengan sahabat, bercanda dan bercengkrama saat berada di kantin. Itulah yang semakin membuat mereka bertambah ingin segera bersekolah. Sekolah bukan hanya sekedar tempat untuk bergelut dengan berbagai macam tugas. Tapi lebih daripada itu. Sekolah menjadi tempat mereka meluapkan segala isi hati dengan problema yang mereka alami. Semua masa-masa indah di sekolah itulah mereka rindukan saat ini. Kerinduan yang setiap harinya selalu ingin mereka luapkan.

Kerinduan yang dirasakan oleh para siswa itu bukan  tanpa alasan. Belajar dari rumah bisa jadi menjadi sebuah solusi tapi bisa jadi juga menjadi beban sebagian siswa. ketika kita sebagai seorang tenaga pendidik tak mampu membuat sebuah kelas yang menyenangkan secara otomatis peserta didik akan berada pada titik kejenuhan. Inilah yang harusnya kita khawatirkan dimasa ini. Dimana peserta didik sudah mulai jenuh dan bersifat acuh terhadap pembelajaran mereka. Ketika mereka yang suka aktif berkegiatan di ekstrakurikuler menjadi tidak bisa banyak melakukan kegiatan karena hanya dihadapkan setiap hari oleh pembelajaran jarak jauh. Ketika mereka dihadapkan untuk menatap layar handphone mereka. Tidak hanya itu ada satu problema yang dirasakan oleh siswa dari rumah. Mereka butuh bersosialisasi dengan teman sejawat mereka. Mereka butuh diskusi tentang materi. Yang tentunya akan berbeda dengan menggunakan media teknologi saat ini.

Sudah seharusnya kita sebagai tenaga pendidik mampu membaca situasi ini. Kita punya PR untuk membuat sebuah proses pembelajaran yang tentunya harus berbeda dengan kelas di sekolah. Bukan hanya tempatnya berbeda. Bukan hanya medianya berbeda tapi lebih daripada itu. Pendidik harus mampu membuat sebuah kelas yang menyenangkan yang membuat peserta didik tertarik untuk terus mengikuti pembelaran yang kita berikan. Bukan hanya pada sekedar pemberian tugas. Tetapi penerapan dari ilmu yang kita mereka kepada peserta didik.

Itulah sebabnya sebuah teknologi tidak akan mampu menggantikan peran seorang sahabat, peran seorang guru yang menjadi motivasi belajar para siswa. Teknologi hanyalah sebagai jembatan bagaimana seseorang dimudahkan untuk bisa berkomunikasi dengan yang lainnya. Tanpa mengurangi subtansi dari arti hubungan emosional itu sendiri. Di jaman ini, kita diperhadapkan dengan perkembangan teknologi yang luar biasa. Nah, sebelum era corona menyerang. Masih banyak yang menggunakan teknologi hanya sekedarnya saja menggunakan teknologi hanya sekadarnya. Kini kita baru sadar ternyata literasi teknologi kita masih kurang. Sebagai pendidik kita mempunyai tantangan yang cukup kompleks. Dan tantangan ini harus kita hadapi dan harus kita lewati. Maka setelah masa pandemic ini berakhir akan bermunculan berbagai inovasi pembelajaran yang membuat peserta didik semakin tertarik untuk belajar. Sudah saatnya nanti rindu yang itu akan menjadi percumpaan yang manis dengan sejuta pengalaman yang dimunculkan masa pandemic ini.

Pendidik adalah garda terdepan maju atau mundurnya peradaban sebuah negara. Pendidik adalah ujung tombak masa depan sebuah negara. Guru yang hebat adalah guru yang mampu mengispirasi peserta didiknya. Sehingga selalu menjadi guru yang dirindukan. Sehingga teknologi takkan mampu menggantikan perananannya.

Oleh : Rukman, S.Pd

(Guru Bahasa Indonesia MAN 3 Bone)

LOKASI 1
Jl. Poros Makassar-Bone, Leppangeng
Desa Patangkai Kec.Lappariaja
Kabupaten Bone
SULAWESI SELATAN ~ 92763

LOKASI 2
Jl. Poros Camming Pabrik Gula
Desa Tungke - Kecamatan Bengo
Kabupaten Bone
SULAWESI SELATAN ~ 92763